Social Icons

Pages

SANG PEMIMPIN SEJATI (PRATAMA)

Salam Pramuka ,



Manusia adalah mahkluk Tuhan yang paling sempurna di antara mahkluk-mahkluk lainnya. Manusia diciptakan Tuhan sebagai pemimpin minimal bagi dirinya sendiri. Maka tidak salah jika orang bijak mengatakan bahwa orang yang baik adalah orang yang mampu memimpin dan membimbing diri sendiri untuk menjadi lebih baik. Terlebih menjadi seorang pemimpin dalam suatu golongan.
Tuhan menciptakan manusia dengan 2 bentuk, yaitu Laki-laki dan Perempuan. Dan keduanya adalah pasangan. Dari masing-masing mereka memiliki Tugas sendiri-sendiri. Laki-laki diciptakan sebagai imam dalam suatu pasangan. Dalam Islam, kaum laki-laki dituntut untuk menjaga, merawat, mendidik, menafkahi Istri & anak-anaknya dan menjadi panutan dalam bahtera rumah tangga.
Di ibaratkan dalam Bahtera rumah tangga itu adalah suatu kendaraan, sang suami adalah sopir, sedangkan istri dan anak-anaknya tidak lain yaitu penumpang. Dan disinilah letak tanggung jawab seorang suami. Seseorang  yang seharusnya menentukan arah kendaraan menuju tempat yang layak buat keluarganya. Dan tidak hanya layak, tetapi juga membawa kemaslakhatan.
Namun setelah kita melihat penjelasan di atas, pasti dibenak kita mempertanyakan, “Lo Mas, Misalkan suami ini orangnya tidak baik, dan membawa keluarganya ke arah yang sesat bagaimana??? Apakah kita harus mengikuti arah suami tersebut???” dengan pertanyaan itu, sepertinya jawabannya sudah ada diatas.
Logikanya begini, jika dalam suatu kendaraan sang sopir membawa kita ketempat yang berbahaya, misalkan kedalam sebuah Jurang. Maka penumpang yang tahu kalau itu mengarah keJurang pasti akan menegur sopir bahwa arah yang dituju adalah salah. Namun jika teguran itu dihiraukan, mau tidak mau kita akan turun dari kendaraan tersebut. Bagaimana tidak, kita sebagai manusia normal, sadar dan waras jelasnya kita tidak ingin jatuh. Karena itu membawa sesuatu yang tidak baik kepada kita.
Jika di logikakan dalam suatu bahtera rumah tangga, jika sang suami membawa kita kearah yang yang tidak baik, maka kewajiban sang istri & anak-anak adalah mengingatkannya. Namun jika peringatan itu tidak dihiraukan maka wajib pula sang istri & anak-anaknya menolak ajakannya, meskipun dalam Islam suami adalah panutan.
Kemudian, dalam realita kehidupan ini terkadang seorang Istri yang justru berlawan arah dengan suaminya namun bukan karena Sang suami yang tidak benar, tetapi memang sang istri yang berkelakuan diluar sewajarnya. Misalkan suaminya seorang Ustadz, istrinya mempunyai hobi Dugem. Pertanyaannya “Siapakah yang disalahkan akan hal ini????” Inilah pertanyaan yang seharusnya dipertanyakan kepada diri pribadi seorang suami.
Penjelasan di atas mengatakan bahwa seorang suami adalah Imam bagi keluarganya. Jadi kesimpulannya jika dalam suatu keluarga itu ada yang menyimpang, maka yang harus diTuntut adalah sang suami. Jika hal itu terjadi, maka Sang suami telah gagal membangun sebuah bahtera rumah tangganya. Namun jika anak dan istrinya menjadi seoarang Putra yang baik dan menjadi seorang Istri yang BerAkhlaqurKarimah, maka Sang suami telah berhasil menjadi suami yang Baik.
Itulah PR seorang Laki-laki jika nanti sudah memegang tanggung jawab sebagai suami yang baik, yang mampu membawa keluarganya dikehidupan yang lebih baik DUNIA AKHERAT….!!!!!